Thursday, August 4, 2011

Avril Lavigne - Won't Let You Go

This is the lyrics of Won't Let You Go by Avril Lavigne. I wish this song would be exist on her 5th album :)

I wrote this just by what my ears heard on the song, so if there's any mistake please forgive me ^^v and give correction to me. thanks :)

Avril Lavigne - Won't Let You Go [Download]


When you're fallin'

You're crashin'

When your fire has turned to ashes

When you're screamin'

Your heart is bleedin'

When you're feelin' like there's no reason


I won't let you go ..

No, I .. I won't let you go ..


It's when you're all alone and it's cold and there's no one to hold

When you're feelin' lost and there's no where, there's no where to go

When you're feelin' sad don't forget you can reach for my hand

When you're feelin' down just remember,

I won't let you go ..


When you're turned down

When you're fading

[cut]


And I .. I won't let you go

No, I won't let you go


It's when you're all alone and it's cold and there's no one to hold

When you're feelin' lost and there's no where, there's no where to go

When you're feelin' sad don't forget you can reach for my hand

When you're feelin' down just remember remember remember ..


When I said forever, I know that I meant forever

And I won't let you down

I can always be found

And I'll always around


When you're all alone, it's cold, there's no one to hold

When you're feelin' lost and there's no where, no where ..

When you're feelin' sad don't forget you can reach for my hand

When you're feelin' down just remember


I won't let you go [ la di da di da la di da di da ] 4x

I won't let you go ..

***


Putri Juwita

Home Sweet Home, Aug 5 2011

Monday, August 1, 2011

Video The Black Star Tour Jakarta, Indonesia

Some videos of Avril Lavigne taken by me at The Black Star Tour, Jakarta Indonesia

Avril Lavigne - Smile


Avril Lavigne - Complicated


sorry I haven't added the other video, I'll upload it soon :)
subsribe and add me as friend my channel on youtube

The Black Star Tour at Jakarta, Indonesia

Some photos of Avril Lavigne taken by me at The Black Star Tour, Jakarta Indonesia
May 11, 2011









^^ This photo wasn't taken by me
^^ This photo wasn't taken by me



you can also look the other photos at my facebook

Thursday, July 21, 2011

Sorry..

Sorry.. This site is still underconstruction

Saturday, May 15, 2010

You Were Mine, Jens..

Hwah.. Setelah sekian lama saya menghilang dari peredaran dan dikejutkan dengan sebuah berita yang cukup membuat shock, saya kembali membawakan sebuah cerita singkat yang saya rangkai sendiri. Semoga bisa menghibur dan memberi semangat teman2 lagi ! Cheer up ! :')
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama ya memang saya sengaja krna ini sesungguhnya adalah curhatan saya. heheheh :D

***

Aku menatap ke arah foto keluarga yang tergantung di dinding, lalu senyum - senyum sendiri.
"Hei, kok senyum - senyum sendiri gitu?" Jensen, suamiku, tiba - tiba datang lalu memelukku dari belakang.
"Hanya kagum, Jens." jawabku singkat.
"Kagum? Kagum kenapa? Ehm.. Let me guess, pasti kagum punya suami setampan aku."
Aku berbalik dan mendelik ke arahnya. Lalu seketika aku mencubit hidungnya. "Ih GR deh! Aku kagum, soalnya istrinya cantik tapi suaminya kok jelek. Genit lagi!" Jensen pun tertawa terbahak - bahak mendengar jawabanku barusan.

Menurutku lucu memang, semua orang juga tahu bahwa suamiku luar biasa tampan. Banyak wanita yang mengejarnya di luar sana. Siapa sih yang menolak punya suami se-perfect dia. Wajah tampan, kulit putih, tubuh atletis, bibir seksi, dan sepasang mata hazel yang paling indah untuk dilihat. Sungguh aku sangat bersyukur bisa memilikinya.

"Sayang.."
"Hmm?"
"I love you." Jensen tersenyum lalu mengecup bibirku. Tak pernah kurasakan perasaan yang sangat tulus ini terpancar dari kedua matanya. Jensen hendak memelukku lagi, namun ia menghentikannya ketika tiba - tiba suara bidadari kecil mengejutkan kami.
"Mommy.. Daddy.."
Jensen segera ngeluyur ke arah bidadari itu dan menggendongnya. Bidadari itu adalah Phuck, anak kami yang sudah berumur 1 tahun 10 bulan. Wajahnya terlihat mengantuk sambil sesekali mengusap matanya.
Aku mendekati mereka dan bertanya, "Terbangun?" Phuck mengangguk.
"Tunggu sejenak, sweetie. Mommy buatkan sebotol susu untukmu." Aku mengelus pipi Phuck, kemudian beralih ke Jensen. "Bawa dia ke kamar dulu, Hon."

***

Phuck sudah tertidur pulas. Aku pun yang sedari tadi menunggunya jadi ikut mengantuk. Tapi tiba - tiba muncul Jensen dari balik pintu kamar yang dibukanya perlahan. Tangannya melambai - lambai, mengajakku keluar kamar.
Setelah sampai di ruang keluarga, Jensen menarikku duduk di sofa menghadap sebuah televisi plasma.
"Lihat ini." Jensen menekan tombol remote dan aku menyimak TV itu dengan seksama.
Gambar wajahku muncul di sana, terlihat sedikit gemuk. Aku berjalan perlahan sambil mengelus perutku yang membuncit. Kulihat ada tanggal di pojok tayangan itu, 01/24/08. Anganku jadi melayang ke kisah saat itu.

*

"Ya, ya, berdiri di situ sayang. Hmm, ke kiri sedikit. Yap, pas sekali." Jensen memberikan instruksi untukku agar berdiri tepat dengan posisi handycam.
Jensen meletakkan handycamnya, kemudian segera berlari ke arahku.Dia berdiri di sampingku dan menggandeng tanganku.
“Hi, I’m Jensen Ackles.” Jensen melirikku dan aku segera melanjutkan kata – katanya. “And I’m Jared Padalecki.” Ucapku seraya tersenyum lebar.
“Sayang, kita tidak sedang syuting jumpa fans supernatural.” Jensen tertawa terbahak – bahak dan aku pun ikut tertawa melihat ekspresi wajahnya.
“Maaf, kebiasaan liat tayangan kamu sama Jared sih.”

Pembukaan tayangan itu cukup membuatku bergidik. Masih segar diingatanku bagaimana kejadian persisnya saat itu. Setiap tayangan kuperhatikan dengan lekat sambil anganku berayun – ayun kembali ke masa lampau.
Jensen dan aku tertawa saat tiba – tiba proses perekaman itu harus dihentikan. Kami ingat hal itu dikarenakan Jensen panik melihatku berteriak dan terduduk secara mengejutkan, kemudian Jensen melarikanku ke rumah sakit sebab aku akan segera melahirkan anak pertama kami. Sungguh unforgettable.

***

Semuanya terasa begitu sempurna, tak ada cacat sedikitpun. Masa – masa dimana kami masih tertawa riang saling berbagi kasih dan bercumbu di setiap momen yang tak terlupakan. Sampai pada akhirnya semua kebahagiaan terhenti karena keputusan kami untuk melakukan Long Distance Relationship. Aku harus melanjutkan studiku dan kembali ke kota asal bersama Phuck, sedang Jensen dituntut harus menyelesaikan kontraknya pada salah satu televisi swasta.

Kala itu masih kuingat, sesaat sebelum keberangkatanku kembali ke kota asal. Jensen menipuku dengan berkata tidak bisa mengantarkanku ke bandara. Ternyata menjelang aku memasuki ruang tunggu, Jensen datang tergopoh – gopoh sambil membawa sebuah bingkisan berwarna merah jambu. Teriakannya yang nyaring menyebutkan namaku cukup membuat semua pandangan tertuju padanya. Aku hanya terkejut dan terpaku melihat kedatangannya yang sungguh aku tak menyangka. Semakin ia mendekatiku dan Phuck pun berteriak “Daddy..”

Jensen menggeletakkan bingkisan tadi di lantai begitu saja, mengambil Phuck dari gendonganku,
memeluknya erat, kemudian menciumi seluruh wajahnya. Lalu pandangannya beralih ke arahku. Kami berpelukan lekat sekali, tak peduli sejuta mata yang memperhatikan kami. Air mataku tak terbendung, apalagi mendengarnya membisikkan kata I love you berkali – kali tepat tersarang di gendang telingaku.
Jensen melepaskan pelukannya dan mendudukkan Phuck di kursi terdekat. Dia kembali kehadapanku, melihatku yang masih sesenggukan.

Jensen mengusap air mata di pipiku dan menggeleng, “Everything’s gonna be alright. Promise me, kau akan mencapai tingkat tertinggi distudimu.”
“I promise.” Aku hanya bisa menjawab singkat.
“Kita akan berkumpul kembali setelah urusan kita selesai. Kembali menjadi ikatan keluarga yang utuh. I swear!”
Aku mengangguk dan kami pun berpisah di situ.


***

Awalnya hubungan kami masih cukup baik. Komunikasi tetap bisa terjalin bahkan Jensen sempat mengirimkan hadiah pada malam natal yang cukup panas di kotaku, walaupun dia tahu aku tidak merayakannya. Namun begitulah kami. Walaupun berbeda keyakinan, kami tetap menghargai satu sama lain. Pernah sekali waktu Jensen mengunjungi aku dan Phuck dikala jadwal syutingnya sedang lenggang.

Namun lambat laun, semuanya hangus terbakar roda api kehidupan. Abunya pun turut habis termakan usia. Kami bertambah sibuk dengan kegiatan masing – masing. Kudengar job filmnya semakin laris, begitu pula aku mendekati studiku yang hampir menuju kelulusan. Ditambah lagi Phuck yang sudah memasuki taman kanak – kanak. Frekuensi komunikasi kami menurun drastis, bahkan sebulan dua bulan kami tidak ada komunikasi sama sekali. Awalnya semua itu berjalan begitu saja, dan aku tak peduli. Toh kami sudah berjanji akan segera kembali pada saat studiku selesai. Tapi lama – lama memang terasa juga. Aku mulai merindukan saat – saat kebahagiaan kami. Sejak saat itu aku mulai berusaha menghubunginya namun tidak ada jawaban. Kalaupun ada jawaban, mungkin dari operator yang mengatakan bahwa dia sedang sibuk.

***

Di suatu sore yang mendung, tanggal 12 Mei, aku mencoba untuk menghubunginya lagi. Sepeti biasa kutelepon nomor rumahnya. Namun sungguh mengejutkan karena kini yang menjawab adalah seorang wanita. Selama ini selalu Jensen sendiri yang mengangkat teleponnya. Tapi sekarang? Dari dulu setahuku Jensen tidak pernah berniat untuk menyewa pembantu. Entah mengapa pikiranku langsung ke arah negatif.

Wanita di seberang sana menutup telepon setelah ngomel sendiri karena yang menelepon tak berkata apa – apa. Saking terkejutnya, aku memang hanya terdiam. Pikiranku menerka – nerka siapakah dia. Padahal kan lebih mudah kalau aku langsung bertanya saja kepadanya.

Di tengah rasa penasaran yang sedang menggantung dipikiranku, tiba – tiba Phuck datang dengan wajah sembab. Seragam sekolahnya kusut terlihat bekas ia gunakan untuk mengusap air matanya. Phuck menghampiriku dan seketika ia menangis lagi.
“Mommy.. katakan itu tidak benar..”
“Itu? Itu apa?”
“Teman – teman di sekolah berkata bahwa Daddy akan menikah.” Ucapnya lirih sambil sesenggukan, namun aku dapat mendengarnya dengan jelas. Tapi aku berdalih tidak mendengar saking terkejutnya.
“Ehm.. Apa?”
“Bukankah Daddy adalah aktor terkenal, Jensen Ackles? Benarkan Mommy? Teman – teman sedang asyik membicarakannya. Kata mereka di acara televisi disebutkan bahwa Daddy akan menikah besok.” Tangis Phuck semakin keras.
Aku teringat pada telepon tadi, namun aku berupaya meyakinkan Phuck kalau tidak terjadi apa – apa.
“Tidak sweetie, mungkin itu hanya gossip. Kau belum tahu, kalau artis itu sering diberitakan yang tidak sesungguhnya.” Aku menunjukkan senyum yang aku bentuk sedemikian rupa agar terlihat manis dan tak terselip kebohongan sedikit pun diomonganku.
Phuck mengusap air matanya, “Jadi benarkan itu bohong, Mommy?”
“Iya, itu semua hanya rekayasa. Sudah kamu mandi dulu, ganti baju, kemudian istirahatlah di kamar.” Bidadariku mengangguk dan segera pergi.

Namun tidak denganku. Aku berlari ke kamar dan menyalakan televisi, kutekan semua tombol remote mencari acara infotainment. Dan usahaku tidak membuahkan hasil karena jarang ada yang menayangkan infotainment sore begini. Apalagi beritanya tentang artis luar negeri.

Aku tidak kehabisan ide. Aku segera menuju komputerku yang beruntungnya masih menyala, sehingga aku tak perlu menunggu lama. Segera saja aku browsing di internet berita terbaru tentang Jensen. Yang tak kuinginkan ternyata muncul. Terdapat foto Jensen bersama wanita lain. Berita yang ditampilkan mengatakan bahwa Jensen sudah bertunangan dengan wanita yang bernama Danneel Harris itu. Aku merasa sempat mendengar nama tersebut, karena ternyata ia adalah lawan main Jensen di filmnya dulu. Saat hubunganku dengan Jensen masih erat, saat Jensen belum sesukses ini, sehingga tak seorangpun tahu hubunganku dengan Jensen. Berita yang lain menyebutkan bahwa mereka akan menikah pada tanggal 13 Mei.

Anehnya, aku justru tidak menangis. Meskipun terasa sesuatu yang tajam menghujam keras ke hatiku. Jensen terlihat bahagia di foto itu. Mereka memperlihatkan cincin pertunangan yang mereka kenakan. Kuperhatikan Danneel, sosok wanita yang sempurna. Sempat terbesit iri dihatiku. Terang saja Jensen lebih memilih dia. Ingin rasanya aku berteriak “Dia milikku!”, namun kata itu hanya terpendam dalam hati. Tak ada artinya aku berteriak. Aku mengambil selembar foto Jensen dengan sebuah tanda tangan diatasnya, yang kuingat itu adalah bingkisan merah jambu yang dibawanya dulu. Kupeluk erat, kupejamkan mata, kemudian kulukiskan senyum terindah dibibirku untuk Jensen.

Aku sangat mencintai Jensen, seorang yang selalu menjadi penyemangat di saat aku terjatuh. Seseorang yang selalu tersenyum dalam anganku di saat aku melompat bahagia. Namun cinta memang tak selamanya harus memiliki. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga, meski berat tapi itu harus. Aku hanya berdoa, memohonkan yang terbaik untuknya. Memohon pada Tuhan agar senantiasa menjaganya. Memohon pada Tuhan agar sampaikan perasaanku ini padanya. Memohonkan pada Tuhan agar mereka hidup Happily Ever After. Meskipun aku masih berharap semua ini tidak benar dan suatu hari nanti kau akan kembali ke sisiku.

I can`t find a reason to let go,
even though you`ve found a new love,
and she`s what your dreams are made of

I can find a reason to hang on,
what went wrong can be forgiven,
without you, it ain`t worth living
alone

Sometimes i wake up, crying at night
and sometimes i scream out your name.
what right does she have to take you away
when for so long, you were mine.

I took out all the pictures of our wedding day,
it was a time of love and laughter,happy ever after.
but even those old pictures have begun to fade,
please tell me she`s not real, and that you`re really comin` home to stay.

Sometimes i wake up, crying at night
and sometimes i scream out your name
what right does she have to take your heart away,
when for so long, you were mine.

i can give you two good reasons to show you love`s not blind
he`s 2 and she`s 4, and you know they adore you,
so how can i tell them you`ve changed your mind?

sometimes i wake up, crying at night
and sometimes i scream out your name
what right does she have to take your heart away,
when for so long, you were mine.

I remember when you were mine..

Regards,


Putri Juwita - Home sweet home - Parents' Room
May 13, 2010